Thursday, February 02, 2006

Sejarah Rasulullah S.A.W. ( Bagian 10)

Aturan Baru di Mekah

Setelah Rasul Allah s.a.w. memasuki Mekah dan beristirahat, beliau meminta kepada Utsman bin Thalhah untuk memberinya kunci Ka’bah, karena selama ini dia lah pemegang kunci Ka’bah yang dia terima secara turun temurun. Kemudian Nabi membuka pintu Ka’bah dan memasukinya diikuti oleh beberapa sahabat. Kemudian Nabi meminta agar pintu Ka’bah ditutup, dan Khalid bin Walid menjaganya di luar. Pada masa itu dinding Ka’bah di bagian dalam penuh dengan gambar para Nabi, malaikat dan sebagainya. Rasul Allah s.a.w. meminta agar semua itu di bersihkan lalu beliau membasuh dinding Ka’bah bagian dalam dengan air zamzam.

Patung-patung yang berada di dalam Ka’bah pun dihancurkan oleh Rasul Allah s.a.w. Imam Ali as ikut membantu Rasul Allah s.a.w. dalam menghancurkan patung-patung ini. Ketika Rasul Allah akan menghancurkan patung yang terbesar, beliau perlu pijakan untuk mencapai tempat yang lebih tinggi. Untuk itu beliau meminta Imam Ali agar mengangkat beliau di atas bahu. Ketika Rasul Allah berusaha berdiri di atas bahu Imam Ali as, Imam Ali merasakan beban yang sangat berat dari tubuh Rasul Allah s.a.w, sehingga beliau tidak mampu berdiri mengangkat tubuh Rasul Allah dengan bahunya. Dalam hal ini Imam Ali sendiri mengatakan bahwa beban risalah yang diemban oleh Rasul Allah membuat tubuh beliau sedemikian berat.

Wal hasil apa pun sebabnya, yang jelas dalam sejarah dikatakan bahwa ketika Imam Ali as tidak mampu mengangkat tubuh Rasul Allah s.a.w, maka Rasul Allah meminta agar Imam Ali yang naik ke bahu beliau untuk menjatuhkan berhala terbesar sesembahan kaum musyrikin Qureisy itu. Jadilah Imam Ali as naik ke atas bahu Rasul Allah s.a.w. dan menjatuhkan berhala besar yang pecah berkeping ketika menimpa tanah. Kemudian Rasul Allah s.a.w. berdiri di depan pintu Ka’bah dan mengucapkan kata-kata berikut ini :

الحمد للّه الذي صدق وعده ونصر عبده وهزم الاَحزاب وحده

“Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, dan mengalahkan golongan-golongan (kuffar musyrikin) sendirian”.

Kemudian beliau memandang kepada orang-orang Makkah yang menyaksikan beliau menghancurkan berhala-berhala itu. Beliau bertanya kepada mereka, “Apa yang akan kalian katakan dan bagaimana menurut kalian?” Mereka menjawab, “Kami mengatakan yang baik dan berpendapat dengan pendapat yang baik pula. Engkau adalah saudara kami yang mulia, dan anak saudara kami yang mulia, dan Engkau telah mencapai kemenangan.” Rasul Allah s.a.w. menimpali ucapan mereka dengan mengatakan, “Sedangkan aku mengatakan kepada kalian sebagaimana yang dikatakan oleh Saudaraku Yusuf,

قالَ لا تَثْريبَ عَلَيْكُمُ اليَومَ يَغْفِرُ اللّهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرّاحِمين

“Dia (Yusuf) berkata, “Hari ini tidak ada celaan atas kalian. Mudah-mudhaan Allah mengampuni kalian, dan Dialah yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang”. (Yusuf: 92)
Kemudian Rasul Allah s.a.w. juga mengatakan, “Kalian adalah seburuk-buruk tetangga Nabi. Kalian telah mendustakan, mengusir, dan mengganggu. Tetapi kalian belum puas dengan semua itu, lalu kalian memerangiku pula. Pergilah kalian, dan kalian adalah orang-orang yang dimerdekakan.”


Setelah menunaikan salat Dhuhur, Rasul Allah s.a.w. menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat memegang teguh amanat kepada para pemiliknya. Kemudian Rasul Allah s.a.w. menghapus semua jabatan yang berkaitan dengan Ka’bah yang berlaku di masa jahiliyah, kecuali yang bermanfaat bagi umat manusia, seperti pemegang kunci Ka’bah dan penjaga tirai Ka’bah, juga petugas pembagi air untuk para hujjaj.

Dalam kesempatan pertemuan dengan kaum kerabatnya, teramsuk Bani Hasyim dan Bani Abdul Muttalib, Rasul Allah s.a.w. menjelaskan kepada mereka bahwa ikatan kekeluargaan yang ada diantara mereka tidak boleh membuat mereka merasa lebih mulia daripada orang lain, atau menjadikannya sebagai tameng untuk berbuat semena-mena dan melanggar yang berlaku dalam pemerintahan Islam.

Di hadapan kaum kerabatnya ini, Rasul Allah s.a.w. bersabda sebagai berikut, “Wahai Bani Hasyim, Wahai Bani Abdul Muttalib, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, dan aku sangat mengasihi kalian. Akan tetapi janganlah kalian mengatakan “Muhammad dari kami”. Demi Allah, para pencintaku, baik dari kalian atau dari selain kalian, tak lain adalah orang-orang yang bertakwa. Jangan sampai kalian datang kepadaku di hari kiamat dalam keadaan memanggul dunia, sementara orang lain datang memanggul akherat. Ketahuilah bahwa aku tidak dapat berbuat apa dengan apa yang ada antara aku dan kalian, tidak pula antara Allah swt dan kalian. Bagiku amalku dan bagi kalian amal kalian.”

Kemudian, dalam khutbah yang beliau sampaikan di depan sejumlah besar penduduk Makkah, Rasul Allah s.a.w. mengajak semuanya untuk meninggalkan adat kebiasaan buruk di masa jahiliyah. Diantaranya ialah, watak suka menyombongkan nasab atau garis keturunan, etnis Arab atau kearaban, dendam kesumat dan perang berkepanjangan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk lain. Semantara itu beliau menumbuhkan nilai-nilai mulia diantara mereka, seperti persamaan hak dan kedudukan diantara manusia, persaudaraan Islam, kasih sayang terhadap kaum lemah termasuk anak yatim dan kaum perempuan.

Sebelum ini telah disebutkan bahwa Rasul Allah menjatuhkan vonis mati kepada 10 orang penduduk Makkah dan meminta agar mereka dibunuh dimanapun mereka berada, bahkan jika mereka bersembunyi di balik kain Ka’bah. Akan tetapi kira-kira separuh dari sepuluh orang ini pada akhirnya di ma'afkan juga oleh Rasul Allah s.a.w, karena permohonan beberapa sahabat, atau kerabat orang-orang itu, yang sudah masuk Islam sebelumnya.

Selain di dalam Ka’bah, kaum musyrikin Qureisy juga memiliki rumah-rumah ibadah yang penuh dengan berbagai macam berhala di dalamnya. Rasul Allah s.a.w, juga memerintahkan agar rumah-rumah ibadah tersebut dibersihkan dari patung. Beliau juga memerintahkan kepada penduduk Makah yang memiliki patung agar menghancurkannya.

Demikianlah Rasul Allah s.a.w. setelah menaklukkan Makkah, mengislamkan seluruh penduduknya dan membersihkan kota ini dari semua berhala, beliau pun mengatur dan merapikan pemerintahannya dengan menunjuk orang-orang tertentu untuk menjalankan tugas-tugas sosial, politik, keamanan dan ketatanegaraan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home