Thursday, February 02, 2006

Sejarah Rasulullah S.A.W. ( Bagian 11)

Perang Hunain

Dalam penaklukan kota suci Makkah Al-Mukarramah, dimana setelah Nabi dan muslimin menguasai penuh kota tersebut, maka sekitar 15 hari kemudian, beliau menyusun pasukan dalam jumlah 12.000 tentara, dan beliau pimpin sendiri menuju ke kabilah Hawazin dan Tsaqif, yang memberontak kepada beliau. Jumlah pasukan muslimin sedemikian besar karena setelah penduduk Makkah menyatakan menerima Islam, maka bergabunglah kaum pemuda Makkah ke dalam tentara muslimin. Bahkan jumlah besar pasukan ini sempat menimbulkan kebanggaan di kalangan muslimin sehingga mereka sempat melalaikan peran dan pertolongan Allah swt, dan menganggap remeh musuh yang bakal mereka hadapi.

Kondisi mereka seperti inilah yang disinggung di dalam Al-Quran Surat At-Taubah Ayat 25, sebagai berikut:

لقد نصركم الله في مواطن كثيرة ویوم حنين اذ اعجبتكم كثرتكم فلم تغن عنكم من الله شیا وضاقت عليكم الارض بما رحبت ثم وليتم مدبرين

Yang artinya, “Allah telah menolong kalian dalam banyak medan pertempuran, dan dalam perang Hunain, ketika kalian merasa bangga dengan jumah kalian yang besar, tetapi hal itu tidak berguna apa pun bagi kalian. Dan bumi pun menjadi sempit bagi kalian, padahal ia luas, kemudian kalian melarikan diri dari medan perang.”

Secara singkat peristiwa perang Hunain itu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai kitab sejarah, terjadi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tentara muslimin menghadapi kekalahan karena tipu daya dan taktik perang yang digunakan oleh musuh. Sementara sebagaimana disinggung oleh Ayat tersebut di atas, pasukan muslimin kurang waspada karena mereka merasa bangga dan hanya mengandalkan kekuatan serta jumlah pasukan yang besar.

Pada tahap pertama, pasukan muslimin dari Bani Sulaim di bawah pimpinan Khalid bin Walid, yang pertama kali masuk ke daerah lawan, terjebak dalam serangan mendadak oleh musuh yang bersembunyi di atas bukit yang kemudian melempari pasukan muslimin dengan batu, anak panah dan tombak. Akibat serangan mendadak ini jatuh korban jiwa dan luka dari pasukan muslimin, sehingga mereka berserabutan lalu sebagiannya melarikan diri.

Melihat kekacauan pasukan muslimin tersebut Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Abbas bin Abdulmuttalib untuk menyeru mereka agar mereka yang melarikan diri itu kembali kepada beliau. Mendengar teriakan Sayyidina Abbas tersebut, kembali tumbuh semangat di hati mereka, lalu mereka pun kembali ke pada Nabi s.a.w. Dengan demikian Rasul pun dapat menyusun lagi kekuatan,lalu menyerang posisi musuh. Serangan balasan pasukan muslimin ini berhasil menimpakan korban dan kerugian cukup besar di pihak lawan sehingga memaksa mereka lari meninggalkan posisi mereka. Mereka juga meninggalkan banyak bekal dan peralatan perang, juga wanita dan anak-anak mereka yang tadinya sengaja disertakan bersama mereka untuk membangkitkan semangat tempur.

Diketahui kemudian bahwa meletakkan anak istri di belakang pasukan yang bertempur, merupakan taktik kabilah Hawazin, dan kabilah Arab lain, untuk membangkitkan semangat tempur dan mencegah mereka melarikan diri dari medan perang. Akibatnya, ketika pada akhirnya mereka lari meninggalkan medan perang, maka kaum wanita dan anak-anak ini tertinggal sehingga menjadi tawanan. Pada perang kali ini pun, secara keseluruhan, pasukan muslimin menahan sebanyak enam ribu orang dari pihak musuh, selain pampasan perang lain berupa hewan dan peralatan perang, serta emas perak sebanyak lebih dari 3300 kilogram.

Sedangkan dari pasukan muslimin, delapan orang syahid dan sejumlah lainnya cidera. Setelah kabilah Hawazin mengalami kekalahan, Rasul Allah s.a.w. pun mempersiapkan pasukannya untuk memerangi kabilah Tsaqif, yang bersama-sama kabilah Hawazin memerangi muslimin.

Kabilah Tsaqif, setelah mengalami kekalahan, maka kabilah Tsaqif yang membantu Hawazin pun lari menuju ke kampung halaman mereka di Thaif. Mereka bersembunyi di balik benteng-benteng mereka yang terkenal kokoh dengan dinding-dinding yang tinggi. Bersembunyi di balik benteng-bentengnya ini, mereka melempari dengan batu dan memanahi pasukan muslimin, sehingga tidak dapat mendekat ke arah mereka.

Kemudian Salman Al-Farisi, mengusulkan agar membuat “manjaniq”, meriam kuno untuk melemparkan batu berukuran besar ke jarak yang jauh. Disebutkan dalam sejarah bahwa Salman sendirilah, dibantu oleh yang lain, yang membuat manjaniq ini, dan mengajarkan kepada muslimin cara-cara penggunaannya. Akan tetapi hal itu pun tidak mendatangkan banyak kemajuan bagi pasukan muslimin, karena kabilah Tsaqif masih tetap bertahan di dalam benteng dan di balik pintu-pintu gerbang mereka yang masih tetap kokoh.

Pasukan muslimin tetap hanya dapat mengepung tanpa hasil apa pun, dan hal itu berjalan selama berhari-hari. Berbagai taktik telah dilakukan oleh Rasul Allah s.a.w. untuk membuat kabilah Tsaqif menyerah. Diantara taktik beliau itu ialah bahwa beliau mengeluarkan pengumuman, barang siapa yang menyerahkan diri kepada beliau, maka orang itu akan dibebaskan dan tidak akan ditawan. Pernyataan Rasul yang demikian ini berpengaruh pada sebagian pasukan kabilah Tsaqif, yang keluar dari meneyrahkan diri kepada Rasul Allah.

Dari mereka yang baru menyerah inilah Rasul Allah s.a.w. mendapat informasi tentang keadaan di dalam benteng. Mereka mengatakan bahwa pihak musuh memiliki bekal yang sangat banyak sehingga akan mampu bertahan meskipun dikepung selama satu tahun. Untuk itulah, dan atas dasar berbagai pertimbangan, Rasul Allah s.a.w. memerintahkan agar pasukannya meninggalkan medan perang.

Beberapa alasan Rasul Allah s.a.w. meninggalkan medan perang tersebut ialah:

1- Tidak ada kemajuan yang diperoleh karena kabilah Tsaqif dan beberapa suku Arab lain yang membantunya, hanya bersembunyi di balik benteng.

2- Pasukan muslimin sudah lelah karena perang sebelumnya menghadapi kabilah Hawazin.

3- Bulan Syawal sudah habis dan masuk bulan DzulQa’dah yang merupakan awal bulan suci (asyhurul hurum) yang dilaranag berperang di dalamnya.

4- Musim haji juga sudah dekat. Dan sejak penaklukan kota Makkah, maka pengelolaan pelaksanaan ibadah haji berada di tangan muslimin.

Akan tetapi Rasul Allah s.a.w. tetap melancarkan dakwah Islam kepada kabilah Tsaqif dan semua suku Arab yang masih belum masuk Islam, sampai akhirnya mereka semua bersedia menerima agama Islam atau menyatakan tunduk kepada pemerintahan Islam.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home