Sunday, March 12, 2006

Tjut Nyak Dhien

Tjut Nyak Dhien


MAKAM TJUT NYAK DHIEN DI SUMEDANG JAWA BARAT 6 NOPERBER 1908


Nama: Tjut Nyak Dhien
Lahir: Lampadang Atjeh tahun 1850
Wafat: Sumedang Jawa Barat 6 Nopember 1908
Dimakamkan: Sumedang Jawa Barat
Suami: Teuku Ibrahim Lamnga (pertama) meninggal di gle tarum Juni 1878
Suami kedua: Teuku Umar meninggal di Meulaboh 11 pebruari 1899
Pengalaman perjuangan: Bergerilya di daerah pedalaman Meulaboh. Dibuang ke Sumedang Jawa Barat
Tanda Penghormatan: Pahlawan kemerdekaan Nasional


Tjut Nyak Dhien (1850-1908)
Perempuan Atjeh Berhati Baja

Nanggroe Atjeh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan imperialis.Tjut Nyak Dhien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusahan melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya di tangkap.

Perlawanan kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Atjeh tahun 1850 ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang keduakali menikah ini. juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, Suami pertamanya Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan pahlawan kemerdekaan Nasional Atjeh.

Jiwa pejuang memang sudah diwarisi Tjut Nyak Dhien dari ayahnya yang seorang pejuang kemerdekaan yang tidak kenal kompromi dengan pejajahan. Dia yang dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara keradjaan Atjeh dan Belanda semakin mempertebal jiwa patriotnya.

Ketika Lampadang, tanah kelahirannya,diduduki Belanda pada bulan September 1875 , Tjut Nyak Dhien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya yang masih melanjutkan perjuangan. perpisahan dengan suaminya, Teuku Ibrahim Lamnga, yang di anggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya . Tjut Nyak Dhien yang menikah ketika masih berusia muda, begitu cepat sudah di tinggalkan mati sang suami yang gugur dala pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bula Juli 1878.

Begitu menyakitkan perasaan Tjut Nyak Dhien akan kematian suaminya yang semuanya bersumber dari kerakusan dan kekejaman kolonial Belanda. Hati Ibu muda yang masih berusia 28 tahun itu bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya sekaligus bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya menuntut balas tersebut. Hari-hari sepeninggal suaminya, Dengan dibantu para pasukannya, dia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Dua tahun setelah kematian suaminya atau tepat pada tahun 1880, Tjut Nyak Dhien menikah lagi dengan Teuku Umar,kemenakan ayahnya, Sumpahnya yang hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu menuntut balas kematian suami pertamanya benar-benar ditepati. Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak menandakan kerugian bagi pihak Belanda.Teuku Umar telah dinobatkan oleh negara sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional .

Sekilas mengenai Teuku Umar. Teuku Umar terkenal sebagai seorang pejuang yang banyak taktit. pada tahun 1893, pernah berpura-pura melakukan kerja sama dengan belanda hanya untuk memperoleh senyata dan perlengkapan perang. Setelah tiga tahun berpura-pura kerja sama, Teuku Umar malah berbalik memerangi Belanda. Tapi dalam satu pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 pebruari 1899 Teuku Umar Syahid.

Tjut Nyak Dhien kembali sendiri lagi. Tapi walau pun tampa dukungan dari seorang suaminya, perjuangannya tidak pernah surut, dia terus melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Dia seorang pejuang yang pantang menyerah atau tunduk pada penjajah. Tidak mengenal kata kompromi bahkan walau dengan istilah berdamai sekalipun.

Perlawanannya yang dilakukan secara bergerilya dirasakan Belanda sangat menggangu bahakan membahayakan pendudukan mereka di tanah Atjeh, Sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya tapi sekalipun tidak pernah berhasil.

Tapi seiring bertambahnya usia, Tjut Nyak Dhien pun semakin tua. Penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit orang tua seperti encok pun mulai menyerang. Di samping itu jumlah pasukannya pun semakin berkurang, ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan.

Melihat keadaan yang demikian, anak buah Tjut Nyak Dhien merasa kasihan kepadanya walaupun sebenarnya semagatnya masih tetap menggelora. Atas dasar kasihan itu, Seorang panglima perang dan kepercayaannya yang bernama Pang Laot, Tanpa sepengetahuannya berinisiatif menghubungi pihak Belanda, Dengan maksud agar Tjut Nyak Dhien bisa menjalani hari tua dengan sedikit tenteram walaupun dalaM pengawasan Belanda. Dan pasukan Belanda pun menangkapnya.

Begitu teguhnya penderian Tjut Nyak Dhien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak di tangkap pun dia masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pesukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu akhirnya berhasil menangkap tangannya. Dia lalu ditawan dan dibawa ke Kota Radja (Bandar Atjeh) .

Tapi walau di dalam tawanan, Dia masih terus dilakukan atau hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakan itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga dia pun akhirnya di buang ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan itulah akhirnya dia meninggal dunia pada tanggal 6 Nopember 1908, dan di makamkan disana.

Perjuangan dan pengorbanan yang tidak mengenal lelah didorong karena kecintaan pada bangsanya menjadi contoh dan teladan bagi generasi berikutnya. Atas perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada Negara, Tjut Nyak Dhien di nobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional. penobatan tersebut dikuatkan dengan SK Presiden RI No.106 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home