Sunday, March 12, 2006

Tjut Nyak Meutia

Atjeh Sumatra


Nama: Tjut Nyak Meutia

Lahir: Perlak Atjeh pada Tahun 1870

Meninggal: Pasai Atjeh 24 Oktober 1910

Suami Pertama: Teuku Muhammad alias Teuku Chik Tunong (Meninggal Mai 1905)

Suami kedua: Pang Nanggroe (Meninggal September 1910 di paya Cicem)

Anak: Radja Sabil (Meninggal perang gerilya di daerah pasai)

Tanda penghormatan: Pahlawan kemerdekaan Nasional

Tjut Nyak Meutia (1870-1910)

Berani Menerjang Peluru

Pamio yang mengatakan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungi tidak selamanya benar. itu dibuktikan oleh Tjut Nyak Meutia, wanita asal Nanggroe Atjeh Darussalam, yang terus berjuang melawan Belanda hingga syahid diterjang tiga peluru ditubuhnya.

Wanita kelahiran Perlak Atjeh tahun 1870, ini adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional Atjeh yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial.

Sebelum Tjut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah Atjeh yang digelari serambi mekkah tersebut. perlakuan Belanda yang semena-mena dengan berbagai pemaksaan dan penyiksaan akhirnya menimbulkan perlawanan dari rakyat. Tiga tahun sebelum perang Atjeh-Belanda meletus, ketika itulah Tjut Nyak Meutia dilahirkan. Suasana perang pada sa'at kelahiran dan perkembangannya itu, di kemudian hari sangat memengaruhi perjalanan hidupnya.

Ketika sudah menganjak dewasa, dia menikah dengan Teuku Muhammad, seorang pejuang yang lebih terkenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Walau ketika masih kecil ia sudah ditunangkan dengan seorang pria bernama Teuku Syam Syarif, tetapi ia memilih menikah dengan Teuku Muhammad, pria yang sangat dicintainya.

Perang terhadap pendudukan Belanda terus berkobar seakan tidak pernah berhenti. Tjut Nyak Meutia bersama suaminya Teuku ChikTunong langsung memimpin perang didaerah Pasai. perang yang berlangsung sekitar tahun 1900-an itu telah banyak memakan korban baik dari pejuang kemerdekaan Atjeh maupun dari pihak Belanda.

Pasukan Belanda yang mempunyai persenyataan yang lebih lengkap memaksa pasukan pejuang kemerdekaan Atjeh yang dipimpin pasangan suami isteri itu melakukan taktik perang gerilya. Berkali-kali pasukan meraka berhasil mencegat patroli pasukan Belanda. Di lain waktu, maka juga pernah menyerang langsung ke markas pasukan Belanda di Idie.

Sudah banyak kerugian pemerintah Belanda baik merupakan pasukan yang tewas maupun materi di akibatkan perlawanan pasukan Tjut Nyak Meutia. Karenanya, melalui pihak keluarga Meutia sendiri, Belanda selalu berusaha membujukkan agar menyerahkan diri. Namun Tjut Nyak Meutia tidak pernah tunduk terhadap bujukan yang terkesan memaksa tersebut.

Bersama suaminya, tanpa kenal takut dia terus melakukan perlawanan,Namun naas bagi Teuku Chik Tunong, suaminya. Suatu hari di bulan Mei 1905, Teuku Chik Tunong berhasil ditangkap pasukan Belanda. Ia kemudia dijatuhi hukum tembak.

Berselang beberapa lama setelah kematian suaminya, Tjut Nyak Meutia menikah lagi dengan Pang Nanggroe, Pria yang ditunjuk dan dipesan suami pertamanya sebelum menjalani hukuman tembak. Pang Nanggroe adalah teman akrab dan kepercayaan suami pertamanya. Teuku Chik Tunong. Bersama suami keduanya itu. Tjut Nyak Meutia terus melanjutkan perjuangan melawan pendudukan Belanda.

Di lain pihak, pengepungan pasukan Belanda pun semakin hari semakin mengetat yang mengakibatkan basis pertahanan mereka semakin menyepit. Pasukan Tjut Meutia semakin tertekan mundur, Masuk lebih jauh kepedalaman rimba Pasai.

Di samping itu, Mereka pun terpaksa berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain untuk menyiasati pencari jejak pasukan Belanda. Namu pada satu pertempuran di paya Cicem pada bulan September 1910, Pang Nanggroe juga mati syahid di tangan pasukan Belanda. Sementara Tjut Nyak Meutia sendiri masih dapat meloloskan diri.

Kematian Pang Nanggroe, membuat beberapa orang teman Pang Nanggroe akhirnya menyerahkan diri. Sedangkan Meutia walaupun dibujuk untuk menyerah namun tetap tidah bersedia. Di pedalaman rimba Pasai, Dia hidup berpindah-pindah bersama anaknya, Radja Sabil, yang masih berumur sebelas tahun untuk menghindari pengajaran pasukan Belanda.

Tapi pengejaran pasakan Belanda yang sangat intensif membuatnya tidak bisa menghindarkan lagi. Rahasia tempat persembunyiannya terbongkar. Dalam suatu pengepungan yang rapi dan ketat pada tanggal 24 Oktober 1910, dia berhasil ditemukan.

Walaupun pasukan Belanda bersenyata api lengkap tapi itu tidak membuat hatinya kecut. Dengan sebilah rencong di tangan, dia tetap melakukan perlawanan. Namun tiga orang pasukan Belanda yang dekat tangannya melepaskan tembakan. Dia pun gugur setelah sebuah peluru mengenai kepala dan dua buah lainnya mengenai dadanya.

Tjut Nyak Meutia Syahid sebagai pejuang pembela bangsa. Atas jasa dan pengorbanannya, Oleh negara namanya dinobatkan sebagai pahlawan kemerdekaan Nasional yang di sahkan SK Presiden RI No:107 Tahun 1964 , Tanggal 2 Mei 1964

0 Comments:

Post a Comment

<< Home