Saturday, April 08, 2006

ISRA’ DAN MI’RAAJ

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Israa’ Ayat 1:


Mahasuci (Allah SWT) yang telah memperjalankan hambaNya, pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya, untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kekuasan) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berupa perjalanan malam dari Makkah ke Yerusalem, dan inilah yang disebut Isra’. Bagian ke-dua, Nabi SAW diangkat oleh Allah SWT ke langit (sampai lapisan ke-tujuh), inilah yang disebut Mi’raaj. Untuk memahami arti penting Isra’ dan Mi’raaj, perlu kita lihat kembali keadaan-keadaan yang terjadi sebelum perjalanan ini.

Banyak peristiwa terjadi dalam kurun waktu satu setengah tahun menjelang terjadinya perjalanan ini. Pertama; dari semua peristiwa itu; ialah meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir kepada orang-orang beriman. Pada waktu itu kaum Muslimin tidak diperkenankan untuk membalas meskipun kekerasan itu sudah sangat berlebihan. Perintah Allah SWT itu terdapat didalam Surat Al-Baqarah Ayat 109:

“.... Maafkanlah dan biarkanlah mereka, sehingga Allah menurunkan perintah-Nya. ...”

Pada kurun waktu itu juga, Paman Nabi Muhammad SAW, yakni Abu Thalib wafat. Semasa hidupnya, Abu Thalib secara duniawi adalah seorang pelindung yang baik bagi Nabi Muhammad SAW dari gangguan orang-orang kafir. Sepeninggalnya, orang-orang kafir semakin menjadi-jadi kekerasannya. Tak lama berselang setelah peristiwa itu, Istri beliau yang tercinta Khadijah RA pun wafat. Pada waktu itu rasa duka yang sangat mendalam meliputi diri Rasulullah SAW. Dalam keadaan sedemikian itu, beliau memutuskan untuk pergi ke kota Thaif, dengan tujuan mendakwahkan Islam. Beliau berharap akan mendapatkan dukungan dari para pemuka masyarakat di kota ini mengingat bahwa mereka masih saudara jauh dari ibunda Rasulullah. Namun para pemuka masyarakat itu menyambut dingin kehadiran Rasulullah SAW disana. Mereka membiarkan anak-anak melempari Rasulullah dengan batu sehingga beliau terluka parah hingga berdarah-darah. Begitu banyaknya luka yang beliau derita sehingga terompah/sepatu beliau penuh darah yang mengucur dari luka dikepala beliau. Rasulullah SAW berlindung didalam sebuah kebun diluar perbatasan kota ini. Pemilik kebun itu merasa iba kepada beliau dan menghardik anak-anak salah asuhan itu sehingga lari ketakutan. Di kebun inilah malaikat menampakkan diri dan berkata kepada Rasulullah SAW:

“Sungguh, penduduk kota ini benar-benar sangat kejam. Jika engkau berkenan, kami dapat menjungkir-balikkan kota ini dan menghancurkan semua yang ada disini.” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Aku telah datang sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta (رحمة للعالمين) dan bukan untuk menjatuhkan hukuman. Semoga generasi mendatang dari kota ini akan melihat kebenaran.”

Karena begitu banyaknya peristiwa duka terjadi di tahun itu, maka tahun itu diberi julukan Tahun Kesedihan’ (عام الحزن). Sekembalinya Rasulullah SAW ke Makkah, beliau dilarang masuk ke kota Makkah karena beliau dianggap bukan lagi warga Makkah. Setelah melalui beberapa kali upaya dan perundingan, beliau diperbolehkan masuk ke kota Makkah dengan syarat bahwa beliau tidak berdakwah kepada siapapun di dalam kota Makkah. Nabi Muhammad SAW hanya boleh berdakwah kepada orang-orang di waktu ada pekan dagang dan perayaan-perayaan yang diselenggarakan diluar kota Makkah. Uraian ini menggambarkan bagaimana sulitnya waktu itu, betapa pula tingginya tingkat kesabaran dan keteguh-tegaran Rasulullah SAW. Karena kesabaran yang sangat tinggi inilah maka Allah SWT memberikan ganjaran yang besar kepada Nabi Muhammad SAW, dan memperjalankan beliau dalam sebuah perjalanan istimewa yakni, Isra’ dan Mi’raaj ini.

Sekarang marilah kita membahas peristiwa Isra’. Malaikat Jibril AS datang ke Masjidil Haram di Kota Makkah dan meminta Nabi SAW berwudlu’ menggunakan air zam-zam. Ia selanjutnya membawa serta Nabi Muhammad SAW mengendarai ‘kuda’ yang sangat cepat yang disebut ‘Burraq’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sesampai disini Nabi Muhammad SAW mengerjakan Shalat dua raka’at. Setelah itu Jibril menawarkan kepada beliau segelas susu dan segelas anggur. Rasulullah SAW memilih meminum segelas susu. Malaikat Jibril AS berkata,

“Engkau telah memilih yang murni dan bersih. Engkau telah dibimbing di jalan yang benar dan begitu juga umatmu. Jika saja engkau memilih anggur, niscaya umatmu akan tersesatkan.”

Kita ketahui bahwa minuman anggur membawa kita kepada perilaku menyimpang/korup dan disebut sebagai induk segala kejahatan (أم الخبائث). Adapun Islam, berpegang teguh pada kemurnian/kesucian, kebenaran, dan kebaikan.

Selanjutnya berlangsunglah peristiwa Mi’raaj, Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW mengendarai Burraq naik ke berbagai tingkatan langit. Disitulah beliau bertemu dengan para Nabi yang lain. Beliau bertemu Nabi Adam AS di langit pertama, Nabi Yahya AS dan ‘Isa AS di langit ke-dua, Nabi Yusuf AS di langit ke-tiga, di langit ke-empat beliau bertemu Nabi Idris AS, Nabi Harun AS di langit ke-lima, Nabi Musa AS di langit ke-enam, dan di langit ke-tujuh Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS. Rasulullah SAW mengucapkan Salam kepada para pendahulunya yang beliau jumpai itu.

Di suatu tempat, Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan malaikat Malik, penjaga api neraka. Beliau minta kepada Jibril agar diperbolehkan melihat neraka. Malaikat Malik kemudian membuka pintu neraka, dan Rasulullah SAW melihat gemuruh kobaran api yang akan membakar apa saja. Diperlihatkan juga kepada Nabi Muhammad SAW contoh-contoh hukuman bagi mereka yang berdosa.

Beliau melihat beberapa orang dengan bibir seperti bibir onta dan mereka menggengam bola api di kedua tangan mereka. Beliau juga menyaksikan orang-orang itu memasukkan bola-bola api itu ke mulut mereka dan bola api itu pun kemudian keluar melalui anus mereka. Malaikat Jibril menjelaskan bahwa mereka itulah yang dahulu tidak jujur dalam mengemban amanah yang menjadi tanggung-jawab mereka.

Beliau SAW menyaksikan orang-orang yang perutnya sangat besar lagi gila, onta yang kehausan berlarian di atas mereka. Diterangkan kepada Rasulullah SAW bahwa mereka adalah orang-orang yang terlibat dalam perampasan hak milik orang lain (memakan harta orang lain secara bathil).

Disaksikan juga oleh beliau SAW, beberapa orang yang memiliki makanan yang segar dan juga terdapat makanan yang telah membusuk terhampar didekat mereka. Tetapi mereka bukannya memakan makanan yang segar yang mereka miliki, malahan memakan makanan yang telah membusuk. Beliau mendapat penjelasan bahwa mereka itulah orang-orang yang menelantarkan pasangannya yang sah.

Beliau juga menyaksikan beberapa wanita yang digantung dengan payudara mereka. Dijelaskan kepada Rasulullah SAW, inilah perempuan-perempuan yang mengkhianati suaminya.

Selama dalam perjalanan Mi’raaj ini, Nabi Muhammad SAW bahkan sampai di tempat yang lebih tinggi dari langit ke-tujuh, yang mana belum pernah ada malaikat yang pernah sampai kesana. Di tempat inilah, di lingkungan yang unik (tak ada duanya) ini, Nabi Muhammad SAW menyaksikan bermacam-macam tanda-tanda (Kebesaran) Allah SWT. Allah SWT menggambarkan hal ini didalam Surat An-Najm ayat 17, 18.

Tidaklah pandangannya (Muhammad SAW) beralih, dan tidak pula melampaui dari yang dilihatnya. Sesungguhnya ia telah melihat tanda-tanda ke-Agung-an Tuhannya,.

Ayat ini memberikan gambaran kepribadian Nabi Muhammad SAW, yakni bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri. Beliau melihat apa yang seharusnya dilihatnya dan selama waktu yang beliau perlukan untuk melihatnya. Beliau tidak melampaui keperluannya dan tidak dengan tatapan mata yang menyelidik karena rasa penasaran dikala beliau sedang memuaskan mata memandang tanda-tanda-Nya yang Maha Agung.

Selama Rasulullah SAW berdekatan dengan Allah SWT, beliau mendapat 3 hadiah berikut ini,

1. Diwahyukan kepada Rasulullah SAW, bahwa barangsiapa mengucapkan Syahadat dengan hati yang tulus, pada akhirnya kelak akan masuk surga atas Rahmat Allah SWT.

2. Rasulullah SAW menerima Wahyu dua ayat terakhir dari Surat Al-Baqarah.

3. Beliau SAW menerima perintah Shalat, pada mulanya diperintahkan limapuluh waktu dalam sehari. Kemudian dikurangi hingga tingga lima waktu, sebagai keringanan khusus untuk umatnya. Walaupun dikurangi kewajibannya, mereka akan tetap menerima ganjaran sebagaimana mengerjakan shalat limapuluh waktu dalam sehari untuk shalat yang dikerjakan 5 waktu itu. Betapa sangat besar kemurahan Allah SWT kepada umat Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW bersabda,

“Shalat adalah Mi’raaj-nya orang-orang beriman” (الصلاة معراج المؤمنين)

Demikian itu karena Shalat adalah komunikasi langsung dan yang berjarak paling dekat antara Allah SWT dengan hamba-Nya yang patuh.

Setelah Nabi Muhammad SAW menerima hadiah-hadiah yang lain daripada yang lain ini, beliau kembali ke Masjidil Aqsa. Para Nabi dan Rasul yang lainpun hadir di sana. Mereka semua melaksanakan shalat berjama’ah dengan Nabi Muhammad SAW sebagai Imam. Hal ini menunjukkan bahwa risalah yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul adalah satu (yakni. Tauhid), dan disini pun menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW atas para Nabi dan Rasul yang lain (AS).

Selesai pelaksanaan shalat, Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah pada malam yang sama. Begitu orang-orang kafir mendengar perihal perjalanan Nabi Muhammad dari Makkah ke Yerusalem dan dilanjutkan hingga ke langit ke-tujuh dan kembali ke Makkah hanya dalam waktu kurang dari satu malam, merekapun berolok-olok tentang berita ini. Orang-orang kafir itu mendatangi rumah Abu Bakar RA dan bertanya,

“Tahukah kamu pengakuan temanmu perihal perjalannya?” Abu Bakar balik bertanya, “ Adakah dia sungguh-sunguh mengatakan hal itu?”

Orang-orang kafir itu serempak menjawab,

“Ya!”

Maka Abu Bakar pun menegaskan,

“Kalau demikian, sungguh benarlah pengakuannya itu.”

Setelah peristiwa percakapan ini, seterusnya Rasulullah SAW memanggil Abu Bakar dengan Ash-Shiddiq (artinya: Yang membenarkan)

Ayat pertama Surat Al-Isra’ ini memberikan banyak pelajaran kepada kita. Misalnya, Allah SWT menggunakan kata ‘Abdi ,yang berarti hambanya yang paling taat, untuk menyebut Nabi Muhammad SAW, bukan nama beliau yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun beliau telah sampai begitu dekat dengan Allah SWT, tetap saja beliau adalah hambanya yang paling taat dan bukannya sebagai mitra (pendamping) di sisi Allah SWT. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk tidak mengada-adakan pendamping di sisi Allah SWT seperti halnya yang telah dilakukan oleh para Ahli Kitab.

Penggunaan kata ‘Abdi juga menunjukkan bahwa perjalanan ini adalah perjalanan jiwa dan raga. Perlu diketahui bahwa ‘Abdi terdiri dari tubuh dan jiwa, bukan hanya salah satunya saja.

Kita juga diajarkan untuk mencintai Masjidil Aqsa yang sekelilingnya telah diberkati oleh Allah SWT.

Lebih jauh lagi, kata ‘lailan’ adalah kata benda yang lazim digunakan, artinya adalah sebagian dari waktu malam. Dengan demikian jelaslah bahwa perjalanan ini berlangsung hanya selama sebagian dari waktu malam. Sungguh, Allah SWT Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Dia telah mendengar do’a Nabi Muhammad SAW dan melihat kesabaran Nabi yang tiada tara. Karenanya, Dia memberi ganjaran kepada Nabi SAW berupa perjalanan yang tiada duanya yakni, Isra’ dan Mi’raaj sebagai isyarat bahwa pada akhirnya Rasulullah SAW pasti berhasil.

Saya berdo’a kepada Allah SWT semoga Dia menganugerahi kita kemampuan untuk memahami arti penting yang sejati dari Isra’ dan Mi’raaj. Amiin.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home